Skip to main content

follow us


Faktanya, berita bohong di media sosial lebih menarik perhatian, meskipun hanya sesaat. Berita palsu telah menjadi salah satu topik sosial media yang paling rajin diperdebatkan setiap tahun.

Satu per satu situs web dengan sengaja menerbitkan informasi bohong, dan menyesatkan mulai muncul di internet dan sering dibagikan di media sosial untuk meningkatkan jangkauan mereka.

Akibatnya, orang-orang di Indonesia menjadi semakin waspada terhadap informasi yang mereka baca secara online, dengan lebih dari seperempatnya menyatakan bahwa mereka jarang mempercayai berita yang mereka baca di media sosial.

"Berita palsu", "Hoax" cepat viral, cepat dikomentari ratusan kali di Facebook, dengan banyak pembaca tidak dapat mengatakan apakah berita utama itu nyata atau tidak. Karena ada data dan fakta yang dimasukan untuk memberikan kesan seolah memang terjadi, dilebih-lebihkan, bahkan lebih menarik.

Tidak semua berita palsu memiliki daya tarik, paling utama adalah cerita kriminal, bencana, teroris, politik, dan pelecehan agama, dengan satu cerita tentang reaksi ekstrem, pasti cepat tersebar dari ratusan sampai ribuan kali.

Frekuensi berita utama bodoh seperti itu menyusup ke media sosial dan internet dengan sangat mengkhawatirkan, karena dari berbagai sumber banyak yang mengaku sering melihat berita palsu di situs-situs seperti Facebook dan twitter.

Setelah tekanan yang meningkat dari pemerintah dan media, Facebook mengambil langkah untuk membatasi jumlah artikel tidak jujur di situsnya dengan mendorong pengguna untuk menandai artikel berita yang dianggap tidak akurat secara faktual, apakah berhasil? Sepertinya tidak

Semua pasti setuju bahwa situs media sosial harus menjadi yang paling bertanggung jawab untuk memastikan orang tidak terkena berita palsu. Namun, bagian yang lebih besar percaya bahwa sumber media lain lebih bertanggung jawab atas penyebaran berita palsu.

Sulit memang untuk mensosialisasikan pemahaman masyarakat tentang berita palsu, paling tidak memberikan pemahaman untuk tidak share sebelum tahu darimana sumber informasi tersebut berasal.

Dengan adanya beberapa orang yang mengaku bahwa mereka telah dengan sengaja membagikan berita politik palsu secara online, sudah jelas bahwa berita-berita palsu ini akan terus mendapatkan daya tarik selama orang masih mau membagikannya secara online.

Related Posts:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar